Ode dari masa lalu

Malam, sayup-sayup terdengar dentingan nada minor. Semakin lama suara tersebut semakin dekat. Aku terjaga.

Suara tersebut dari masa lalu, yang berubah menjadi energi lain kemudian kembali malam ini. Entah, mungkin disengaja.

Apakah ini ode untuk kembali?
Tapi apakah kau tau, sumbu mu terlalu pendek. Sumbu mu terlalu berminyak.

Beberapa hal telah sengaja dihapus dari ingatan, termasuk nama jalan ketika terakhir kali kita bertemu. Pada akhirnya memang harus ada yang disalahkan dan aku rela untuk itu. Tapi maaf, pada akhirnya juga memang harus ada yang dilupakan.

Terima Kasih.

"All human beings are entrepreneurs. When we were in the caves, we were all self-employed: finding our food, feeding our-selves. That’s where human history began. As civilization came, we suppressed it. We became “labor” because they stamped us “You are labor”. We forgot that we are entrepreneurs."

— Muhammad Yunus, nobel peace prize winner

tak kenal (snmp) maka tak sayang

percaya deh, link berikut merupakan awal yang baik untuk mengenal SNMP :)

http://www.linuxhomenetworking.com/wiki/index.php/Quick_HOWTO_:_Ch22_:_Monitoring_Server_Performance

Tags: snmp arulin

Mungkin kita sudah sering mendengar ungkapan “namanya juga manusia” bila ada melihat perbuatan yang bertolak belakang dari karakter yang telah melekat di diri seseorang. Misal seperti dalam lagu Seurieus “Rocker juga manusia” yang menceritakan seorang rocker yang patah hati.

Skinhead yang merupakan sekumpulan working-class dan penggemar bola garis-keras pun demikian, bila kita menonton film This is England ditampilkan (walau tak banyak) rasa melankolis dan sentimentil yang dimiliki seorang Skinhead.

Video dari youtube diatas merupakan bagian dari campaign PUMA yaitu Hardchorus ketika hari valentine pada tahun 2010. Para Hooligans yang identik dengan Skinhead menyayikan lagi Savage Garden - Truly Meedly Deeply yang ditujukan kepada seseorang yang mereka cintai di rumah, sementara mereka menonton tayangan sepakbola bersama kawan-kawan mereka di pub. Umum kita ketahui bahwa hari valentine bagi budaya di daerah barat merupakan hari kasih sayang yang biasanya mereka lalui bersama orang yang mereka cintai.

mungkin istri-istri mereka di rumah lupa bahwa sepakbola adalah agama baru bagi sebagian orang :p

kami adalah sebuah profesi : Desainer !

leiilucene:

Ceritanya begini.

Kan ada yang jadi tukang sapu.

Ada yang jadi dokter.

Ada yang jadi pejabat.

Yang jadi presenter acara wildlife juga ada.

Cleaning service juga semua perusahaan butuh.

Ada lagi yang namanya ahli perias mayat.

Dan beragam profesi lainnya.

Eh tiba-tiba ada tuh yang ngaku-ngaku profesinya namanya Desainer. okelah karena kasusnya saya yang cerita, saya spesifikin deh jadi Desainer Grafis.

Coba yang baca ini, menurut elo-elo pada Desainer Grafis tuh apaan?

1. Orang yang jago komputer

2. Yang jago Corel Draw

3. Yang jago gambar

4. Seksi dokumentasi kalo acara nikahan keluarga

5. Penjaja stan Lukis Wajah jadi 5 menit di mall-mall

6. Desainer kaos-kaos distro anak muda yang gambarnya tengkorak, kotak-kotak, segitiga, warna cerah menyolok dan trendy

7. isi sendiri untuk seterusnya.

Well, sebenernya ga ada yang salah sih, semuanya bisa dibilang Desainer Grafis juga. Tapi kalo lo cuma nyebut seorang DG itu orang yang profesinya salah satu dari list di atas, ih guys bisa dibilang itu rasanya kayak makan mie ayam yang bumbunya kebanyakan jadi kayak isinya kecap semua, hitam hitam geuleuh.

NGGA, aku nulis list di atas ga maksud menyepelekan pekerjaan-pekerjaan seperti itu. Semua orang punya caranya masing-masing untuk memenuhi kewajibannya menjadi khalifah di dunia. Tapi ya tentu punya tingkatan-tingkatan sendiri, ya kan? Ada yang pake otot aja, ada yang pake otak aja, ada yang pake otot dan otak, dan lain-lain. Tapi ga berarti profesi-profesi itu ada yang ga penting. Menurut saya semua profesi itu berharga, yang membedakan hanya harga dan kualitas. Selebihnya, saya yakin apapun tingkatan pekerjaan, orang-orang yang melakukannya pasti semua tujuannya mulia.

Nah terus, ada beberapa kisah :

1. Seorang teman, anak mesin, pastilahya anonim. Kenal saya dari kepanitiaan ospek tahunan ITB. Dan di fakultasnya lagi mau ngadain suatu acara yang butuh desain buku proposal sponsorship. Tentu saja untuk ukuran sponsorship dan layout-layout menyehehe ga gampang, dan doi hanya memberi waktu seminggu. Begitu saya tanya, berapa anggaran yang disediain buat pembuatan proposal? OKE, 150 RIBU RUPIAH. Tertarik? tanyanya padaku.

HELL NO MY FRIEND. #1 : Kalo waktunya mepet, duitnya ga harus mepet kan?

2. Terus ada temen saya nih, sebut saja si Otot. Kliennya dari anak fakultas bagian bisnis. Ceritanya sang klien hendak bikin perusahaan startup untuk memenuhi tugas kuliahnya (semacam itulah pokoknya). Dan beliau memesan lumayan banyak item-item yang butuh jasa desain. Terus tau gak, beliau menawar berapa? 500 RIBU RUPIAH. WOOOT. Saya ga bisa merincinya jujur aja lupa, tapi saya tau 500 tuh ga cukup. Dan si Otot pun pada awalnya terima-terima saja. Namun, pada kenyataannya, pesanan2 susulan terus berdatangan dan banyak revisi sana revisi sini. Oke deh sama-sama mahasiswa. Sama-sama miskin, sama-sama belajar.

TAPI MENGHARGAI ORANG ITU UDAH BELAJAR DARI JAMAN SD KAN? #2 : Desain ga sehari jadi, mengapa? Karena mengerti Anda adalah tugas kami.

3. Nah ceritanya lagi, organisasi eksekutif mahasiswa di sini butuh banyak jasa Desainer nih. Tapi saya pernah nanya, budget yang mereka sediakan untuk jasa desain berapa per acara? Oh, ga banyak kok, ujar salah seorang teman saya, pejabat organisasi eksekutif tersebut. Kalo ga salah 300 RIBU RUPIAH.

Dan itu sudah termasuk poster, logo, baliho, dan lain lainnya. Oke saya mengerti, kocek mahasiswa emang ga seberapa. Mahasiswa itu ngekos, ga makan enak, banyak kegiatan, bayar kosan dan lain-lain.

#3 : Kalo mau murah, tuh ada tukang jasa desain murah 15ribuan. Lebih cepat lebih murah. hemat kan? SUER.

4. Menurut cerita dari kembarannya pacar saya, yang kuliah di fakultas yang erat dengan hal-hal soal bumi, banyak yang mencibir pelajaran-pelajaran kami absurd. Cuma bisa gambar doang ngapain ada ilmunya? Ciyeee, yang ngerasa ilmunya berguna, ciyeee yang ngerasa ilmunya level tinggi, ciyeee yang ngerasa ilmunya penuh rumus-rumus tingkat mahadewa.

Berarti jadi desainer gampang? Okedeh, kalo bikin acara bisa sendiri kan desain poster-posternya?

AH APA? GA BISA GAMBAR? LOH KATANYA GAMPANG? PIYE TOH?

#4 : Kami juga punya kok kajian ilmu, kami juga harus bikin research, kami juga menggambar dengan berpikir. Cuma beda cara doang, itu aja.

5. Kuliah dimana? ITB. Jurusan apa? Seni Rupa, desain grafis. Oh, seni rupa? Nanti kalo udah lulus mau kerja apa emang? Mau jadi pelukis jalanan. YAKALE. Oke ga maksud bilang pelukis jalanan itu buruk, tapi jujur aja untuk konteks Indonesia yang masih notabene pilih kasih profesi, pelukis jalanan kesannya masih buruk, dan lingkungan ga dukung. Om, tante, bapak, ibu, semuanya deh. Kerjaan kami banyak kok, sebutin ya : Art Director, Sutradara, Animator, Ilustrator, Industri Game, Web Designer, Advertising, Video Klip, Desainer Kartu Undangan, Logo Perusahaan, Filmmaker, dan lainnya. Ga ngerti itu ngapain aja? Ya salah sendiri, taunya dokter sama insinyur doang. Padahal bapak-ibu om-tante sekalian kerja di perusahaan berduit banyak yang dipandang elit & bergengsi karena logonya. Haha.

#5 : Desainer Grafis juga profesi. Bukan Tukang Gambar.

OKE, udah deh bacotannya 5 saja. Maaf kalo isinya banyak hal-hal yang negatif. Sumpah ini curahan hati saya di awal semester 5. Dimana kami mahasiswa tingkat 3 tentunya sudah mulai berpikir ke depan tentang hidup dan pekerjaan. Tapi bagaimana kami kaum otak kanan (kebanyakan), bisa bertahan hidup kalau masyarakat awam sebagai stok klien kami masih menganggap rendah profesi kami? Bahkan di lingkungan kampus saja, beberapa pihak fakultas lain yang maaf tanpa maksud menyinggung, masih mencibir dan menganggap pekerjaan kami mudah, asal gambar doang. Padahal mereka juga butuh.

Maaf teman-teman, tidak. SAMA SEKALI TIDAK.

Kami butuh dihargai, ini bukan masalah harga atau uang dengan jumlah banyak. Tidak, kami sama-sama mahasiswa, sama-sama miskin, kere, sama-sama berjuang jadi khalifah-khalifah bumi berkualitas.

Kami dituntut untuk mengerti anda, apa yang anda mau. Berjam-jam duduk di depan komputer yang notabene merusak mata, jam tubuh, dan masalah kesehatan lainnya. Yang kami capai abstrak, perasaan, bukan nilai-nilai pasti yang bisa diraba seperti rumus-rumus, yang ada kepastian kapan mulai dan kapan berakhir.

Kami harus bergelut dengan tugas kuliah yang sama banyak kayak anda-anda, tapi pulangnya langsung ngerjain pesanan dari anda-anda, dimana bisa saja tidur baru jam 3 subuh, proses untuk membahagiakan anda-anda panjang, konsep sana-sini, sketsa-sketsa sampai puas, belum ada revisi, atau mungkin penolakan konsep, juga tes print ke berbagai percetakan yang bahkan banyak dari mereka memberi pelayanan yang tidak memuaskan kepada kami, dan masih banyak proses-proses pekerjaan kami yang tidak seterlihat seperti dokter atau insinyur.

Akhir kata, tulisan blog ini memang curhat, tapi tanpa maksud mengemis penghargaan. Kami hanya ingin dihargai sepantasnya. Profesi kami selevel dengan teman-teman sekalian, plis berhentilah berpikir profesi/keilmuan yang satu lebih penting daripada yang lain.

Ingat, peran kami adalah pembentuk persepsi, kami adalah hiburan bagi kalian, kami adalah pemecah masalah bagi kalian juga, kami pemuas nafsu kalian, kami pembawa pesan kalian, kami adalah apa yang anda tonton, anda baca, anda lihat, ANDA RASA, ANDA SENANG, ANDA SUKA.

KAMI, profesi otak kanan (atau biasa disebut begitu)

memiliki tugas mulia dari Sang Maha Esa sebagai:

UJUNG TOMBAK NILAI BUDAYA.

ini tugas mulia profesi kami,

apa tugas mulia profesimu?

temukanlah, dan mari bersama-sama bersinergi satu sama lain


-terimakasih, maafkan bila ada kata-kata yang kurang mengenakkan dan bila ada kekurangan-

.

.

.

.

.

.

.

kepada siapapun yang membaca.

ini memang curahan hati saya sebagai desainer.

tapi aku, kamu, anda, kami, kalian, semua. kita semua harus mengingat

semua profesi dan keilmuan adalah mulia, ia memiliki peran masing-masing

memang ada tingkatan level,

tapi semua profesi butuh penghargaan dan apresiasi yang sama.

kita semua khalifah-khalifah di bumi yang tujuannya sama dengan cara untuk mencapai yang berbeda. mari saling menghargai.

mari bersinergi :) . dan saya mempunyai profesi yang berbeda :)

Jakarta malam sesudah hujan deras sekali. Aku melirik jam yang berada di taskbar, sudah pukul 19.00 dan masih ada beberapa rincian laporan lagi yang harus dikerjakan. Lalu lintas Jakarta selepas hujan pasti menarik sekali, klakson dan umpatan saling bersahutan.

"kalau begitu aku akan siapkan makan malam nanti, aku yang masak sendiri. Jam delapan yah, jangan telat" begitu pesan terakhir yang kau kirim.

Aku tak percaya, memasak adalah keahlian yang sangat jarang dimiliki oleh wanita yang telah tenggelam oleh ritme ibukota.

Aku telah berbicara dengan Ibu minggu kemarin ketika pulang kampung sebelum tidur di kamar Ibu, sehabis dipijat biasanya Ibu langsung tidur tetapi kemarin jadwal istirahatnya saya ganggu untuk mengobrol. Kami saling bertukar cerita, mengenai pekerjaan ku, keadaan kakak-kakak dan adik ku, hingga kondisi kesehatan terakhir Ibu. Ibu sempat menitikkan air mata (walau sambil tertawa keras sekali) ketika bercerita tentang masa kecil hingga SMP ku dahulu, aku termasuk anak yang nakal dahulu.

"Bu, aku sedang dekat dengan seseorang" kata ku

"Siapa?" Ibu bertanya

"Bekas teman sekantor, tetapi dia sekarang sudah pindah" jawab ku

"Coba lihat fotonya" Ibu meminta

aku mengambil telepon selular karena fotonya banyak sekali di media penyimpanan ku

"ini Bu, ayu yah bu" aku memberi Ibu foto dia sedang bersama ku di sebuah acara kantor. Mitos yang berkembang beberapa wanita memang terlihat cantik dengan pakaian kerja

"hoo„sudah berapa lama kamu berhubungan" Ibu bertanya sambil menatap foto tsb.

"baru setahun belakangan" jawab ku

"lalu?" Ibu sepertinya bisa membaca arah pembicaraan ini

"bila diijinkan Ibu, aku akan menikahinya tahun depan" aku menjawab dengan sedikit gemetar

Kembali aku melirik jam yang berada di taskbar, sudah pukul 19:30, dengan mengendarai sepeda aku sudah sampai di rumah kontrakannya hanya dalam waktu lima belas menit dari kantor. Segera aku matikan laptop dan menuju parkiran untuk mengambil sepeda. Tidak lupa aku selipkan cincin yang kemarin Ibu titipkan kepada di dalam jaket

"Buat kamu aja" Ibu memberikan kepada ku sambil tersenyum.

19.45 aku berangkat dari kantor menuju tempat mu. Apa ku bilang, lalu lintas Jakarta selepas hujan deras sangat sangat menarik.

20.00 aku sudah sampai depan jalan rumah kontrakkan mu, tinggal 20 meter lagi. nada telepon dan notifikasi pesan beberapa kali berbunyi di telepon ku. Ah itu pasti kamu ingin menanyakan “Sudah sampai mana??”

tidak beberapa lama aku telah sampai di depan rumah mu, lalu mengetuk pintu

"Sebentar.." kata mu dengan sedikit berteriak.

sambil menunggu kamu keluar aku cek telepon selular ku.
ada tiga missed-call dari kakak-kakak ku. Oh ada apa mereka menelepon, tumben.
ada juga beberapa pesan dari dari kamu yang isi nya sudah bisa ditebak

"sudah sampai mana,? pasti telat deh"

"macet yah di jalan.??"

dan pesan yang aku buka terakhir berasal dari kakakku,
"Ibu meninggal jam 19.45, segera pulang".

aku terdiam, dan bersamaan dengan itu kau membuka pintu dan menanyakan
"hai apa kabar kamu?"

over the rainbow

selamat berganti tahun.
mixtape kolaborasi saya dan jatifallat.
mixtape yang mempunyai dua sisi yang berbeda. perbedaan seperti gelas dan gayung, bukan seperti hitam dan putih, atau panas dan dingin.


mungkin mixtape ini adalah
mixtape yang dibuat ditengah tesis calon master teknik telekomunikasi.
mixtape ditengah membesarkan keponakan aunty sarah.
mixtape ditengah kesibukan mengajar di salah satu kampus di bilangan Bandung.
mixtape yang dibuat agar tetap tersadar walau berada ditengah ibukota.
mixtape yang menemani gowes sepeda ketika berangkat dan pulang dari tempat kerja.

tapi yang paling mungkin mixtape ini adalah kerjaan iseng, ngabisin bandwidth, membuang waktu.

Saya namakan HEMISPHERE :)

—-jatifallat—-
- Red Jump Suit Apparatus - face down
- The Cranberries - Salvation
- Asian Kungfu Generation - Haruka Kanata
- Kotak - Terbang

———saya———
- Sigur Ros - Hoppipolla
- The Milo - For All The Dreams That Wings Could Fly
- Fiona Apple - Why Try To Change Me Now
- lorien - shivering sun

Enjoy..!!! * artwork menyusul :)) *


Sigur Ros membagi 8 tracks lagu menjadi dua bagian, masing-masing  terdiri dari empat lagu yang berbeda. Dua bagian yang sangat bertolak  belakang, bagian pertama menggambarkan jiwa yang lebih optimis  dibandingkan bagian kedua yang sangat melankolis, walaupun ambient yang  dirasakan pada setiap lagu tidak jauh berbeda.
Dengarkan album ini pada volume 80% ketika malam hari di saat anda gelisah.

Sigur Ros membagi 8 tracks lagu menjadi dua bagian, masing-masing terdiri dari empat lagu yang berbeda. Dua bagian yang sangat bertolak belakang, bagian pertama menggambarkan jiwa yang lebih optimis dibandingkan bagian kedua yang sangat melankolis, walaupun ambient yang dirasakan pada setiap lagu tidak jauh berbeda.

Dengarkan album ini pada volume 80% ketika malam hari di saat anda gelisah.

Jadi kita kembali ke masa SMP.

Ketika lagu ini pertama kali saya dengarkan dan sekarang pun saya masih mendengarkan ketika mengetik tulisan ini. Karena malam ini problem di Network suatu operator banyak sekali maka saya merapal PMA ini dalam hati, bahwa semua ini akan baik-baik saja pada akhirnya :)) .

PMA bukan gerakan baru, Hardcore kids out there have been implementing this since Straight Edge’s wave come up.

Jadi mau ikut atau tidak…terserah anda

@yasbudaya dari AAL gencar sekali sepertinya mengkampanyekan hal ini :D

Lagu-lagu dan lirik-lirik Eddie Vedder selalu mengusik saya. Pasti ada ‘sesuatu’ di dalam lirik yang ia tulis, seperti lagu Society yang merupakan OST dari film Into The Wild. Lagu ini benar-benar bisa membawa diri saya turut merasakan kekecewaan yang sangat dalam pada diri Chris McCandless a.k.a Alexander Supertramp. Eddie Vedder menulis lirik dan memilih nada yang tepat dalam membawakan lagu ini.

Film Into the Wild sendiri baru saya dalami ketika tahun 2009 padahal sudah di rilis sejak 2007. Saya hanya penikmat film bukan ‘movie freak’ , bila ada suatu film yang saya rasa belum bisa saya nikmati, saya akan malas-malasan menonton film tersebut atau tidak saya tonton sama sekali. Maka buat saya jatuh cinta pada suatu film, akan saya cari habis-habisan mengenai film tersebut.

Kekecewaan yang dirasakan Chris McCandless pada film Into The Wild mungkin dirasakan oleh sebagian kita pada saat ini, masyarakat sekarang sudah ‘gila’, bila kita tak setuju dengan mereka maka kita akan di cap salah, padahal kebanyakan parameter benar-salah yang ada sekarang adalah bentukan segelintir orang untuk mencapai tujuan tertentu. Maka bila dulu ada slogan ‘TV is Evil’ maka media internet bisa kita sebut ‘Evil’ juga bila akhirnya ‘isi’ yang terdapat di sana hanyalah bentukan-bentukan untuk tujuan dari suatu kepentingan dari segelintir orang tersebut.

Uzlah atau mengungsi mempunyai bentuk sendiri pada masing-masing medium. Chris McCandless melakukannya dengan menjauhi masyarakat, pada slogan ‘TV is Evil’ kita melakukannya dengan diet TV bahkan tidak menontonnya sama sekali. Maka pada ranah daring ini bukan fisik kita yang diungsikan, tapi pikiran kita. Kita bentuk tandingan saja, karena ‘harga’ yang dibutuhkan sangatlah murah dibandingkan dengan membentuk masyarakat baru, mempunyai stasiun TV baru. :D

When you want more than you have
you think you need
and when you think more than you want
your thoughts begin to bleed

society, you’re a crazy breed
I hope you’re not lonely without me

society, have mercy on me
I hope you’re not angry if I disagree